Diburuskan untuk Menghormati Jakob Oetama: Pengenalan Ulat Buta yang Baru di Pulau Buton

iklan 336x280 atas
336x280 tengah
300x600

romero.my.id - Di bidang herpetologi, jarang sekali kita menjumpai temuan yang tak hanya mengembangkan batasan-batasan ilmiah, namun juga membayar hommage kepada figur tersier di industri pers tanah air.

Berikut ini adalah apa yang dialami oleh M. Dwi Prasetyo, D. Satria Yudha, A.A. Thasun Amarasinghe, Ivan Ineich, G.R. Gillespie serta Awal Riyanto -- anggota tim para ahli dari institusi riset bervariasi sukses dalam menemukan dan melaporkan jenis spesies baru dari famili kadal tunaan (Dibamus) pada pulau Buton, Sulawesi Tenggara.

Spesies ini diberi nama Dibamus oetamai , sebagai tanda menghargai Dr. Jakob Oetama, pendirinya Kompas Gramedia dan figura kunci dalam kemajuan jurnalistik di Indonesia.

Penemuan dari Tanah Terasing

Kadal buta sejenis Dibamus merupakan spesies yang kurang dikenal oleh masyarakat umum, termasuk kalangan peneliti sendiri. Hewan ini memilih untuk tinggal di lingkungan subterranea (bawah tanah). fossorial ), terutama pada betina, serta memiliki mata yang sudah megalami penurunan fungsi. Tampakannya agak mirip cacing dibandingkan reptil, berbentuk silinder, lembut, dan bertekstur halus.

Spekies baru ini ditemukan di dalam hutan hujan dataran rendah Pulau Buton, spesifik di area Lindung Hutan Lambusango. Satwa ini termasuk cukup langka dan sukar untuk ditemui; pada penelitian berlangsung lebih dari 13 tahun dengan partisipasi sekitar 70.000 malam penggunaan jebakan pitfall, hanya ada 28 ekor yang berhasil diamankan.

Apakah Yang Menjadikannya Sebagai Spesies Baru?

Sebelumnya, populasi Dibamus di Buton dikira bagian dari spesies luas Dibamus novaeguineae Yang beredar mulai dari Papua sampai ke Filipina. Tetapi setelah dianalisis secara menyeluruh mengenai ciri-cirinya—dari segi ukuran badan, corak sisik, hingga konstruksi bagian kepala—populasi di Buton justru menunjukkan variasi yang tetap dan mencolok.

Ilmuwan menerapkan analisis komponen utama (PCA) guna memeriksa ciri-ciri fisik secara statistis dan mendeteksi bahwa kelompok Buton membentuk cluster terpisah tanpa overlape dengan grup lain di Papua serta Kepulauan Sunda Kecil.

Perbedaan bentuk tubuh yang lebih ramping, ukuran kepala yang lebih pendek, jumlah dan bentuk sisik yang khas, serta keunikan geografi pulau yang terisolasi semakin memperkuat bahwa ini adalah spesies tersendiri.

Mengenal Dibamus oetamai

Spesies ini secara resmi dinamakan Dibamus oetamai , dan hanya ditemukan di Pulau Buton. Nama ini diambil dari Jakob Oetama, dalam bentuk Latin genitif, sebagai penghormatan atas kontribusinya dalam jurnalisme nasional dan regional. Dalam bahasa Indonesia, kadal ini disebut Kadal Buta Buton, sedangkan nama Inggrisnya adalah Buton blind skink .

"Pemberian nama tersebut merupakan ungkapan penghargaan khusus. Selain untuk memperingati tokoh berpengaruh dari Indonesia, hal itu juga menetapkan jejaknya dalam bidang keilmuan," sebut para peneliti pada rilis yang ada di sitoprobanika.org.

Ciri-Ciri Unik Dibamus oetamai

Berikut adalah beberapa ciri khusus yang memisahkan D. oetamai dari spesies terdekatnya yakni:

  • Ukuran panjang maksimal mencapai 145,7 mm.
  • Ekornya pendek, kurang lebih 12-14% dari panjang total badannya.
  • Betina tidak mempunyai kaki, sedangkan betinanya memiliki kaki belakang yang kecil dan berbentuk seperti sirip.
  • Dua sampai tiga garis cerah di sekitar badan, yang tidak ada pada jenis lain.
  • Kehilangan suture rostral median dan lateral (bagian strukturnya di kepala).
  • Bentuk dan lokasi dari sisik pada kepala serta dagu yang khas.

Kadal ini hidup tersembunyi di bawah permukaan tanah, terutama di lapisan serasah hutan yang lembap dan tidak ditemukan di hutan dekat sungai atau pesisir.

Mengapa Penemuan Ini Penting?

Temuan ini adalah contoh nyata bahwa biodiversitas Indonesia masih menyimpan banyak misteri. Banyak pulau-pulau kecil di wilayah Wallacea—daerah transisi biogeografi antara Asia dan Australia—menyimpan spesies endemik yang belum teridentifikasi.

“Reptil Wallacea termasuk kelompok paling kurang dipelajari di Asia Tenggara. Banyak spesies hanya ditemukan di satu pulau, dan bisa sangat berbeda dari kerabat terdekatnya,” tulis tim peneliti.

Penemuan Dibamus oetamai juga menunjukkan bahwa taksonomi lama yang menyebut D. novaeguineae sebagai spesies tunggal yang tersebar luas perlu direvisi. Di balik nama lama itu ternyata tersembunyi banyak keragaman, dan ini adalah satu dari banyak spesies baru yang kemungkinan masih menanti untuk diungkap.

Warisan Jakob Oetama dalam Dunia Sains

Meskipun Dr. Jakob Oetama tidak berkarier dalam sains, nilai-nilai yang ia perjuangkan dalam jurnalisme—kebenaran, pencarian informasi yang bermakna, dan dedikasi terhadap kemajuan bangsa—ternyata sejalan dengan semangat ilmuwan yang menggali kehidupan tersembunyi dari dalam bumi.

Kini, nama beliau tidak hanya tercetak dalam sejarah media dan pers, tetapi juga melekat dalam dunia biologi, melalui Dibamus oetamai, spesies kecil dari tanah Buton yang membawa cerita besar tentang keanekaragaman hayati dan penghargaan terhadap warisan intelektual bangsa.

336x280

Post a Comment

0 Comments