Pakar Reveals Why Role Models Often Become Perpetrators of Sexual Violence

iklan 336x280 atas
336x280 tengah
300x600

romero.my.id– Kekerasan seksual kembali menjadi sorotan belakangan ini. Sayangnya, penjahat di balik kasus-kasus tersebut malah datang dari tokoh-tokoh teladan yang dipandang sebagai orang-orang berpendidikan serta memiliki integritas tinggi menurut pandangan masyarakat.

Insiden paling baru ini menimpa di Universitas Gadjah Mada (UGM). Guru Besar dari Fakultas Farmasi bernama EM telah diberhentikan karena sudah dibuktikan melancarkan tindakan pelecehan seksual kepada 13 mahasiswinya.

Cara yang dipakai adalah dengan menawarkan kepada korban untuk mendampingi mereka dalam proses skripsi serta berdiskusi tentang aspek akademik di luar lingkungan kampus, seperti di tempat tinggal masing-masing atau di pusat belajar tambahan.

Merespons hal itu, Ketua Tim Satuan Tugas Pencegahan dan Pengendalian Kekerasan dalam Lingkungan Akademik (Tim SATGAS PPPLA) Universitas Airlangga Prof Dra Myrtati Dyah Artaria mengatakan bahwa pola perilaku para pelakunya berasal dari kelompok tersebut merupakan fenomena yang sering terjadi.

"Menjadi teladan kemudian diketahui sebagai pelaku kekerasan seksual, hal tersebut sudah kita pahami dari awal jadi wajar jika kami yang terlibat di bidang ini," ungkap Myrta, Jumat (2/05/25).

Relasi kuasa yang timpang

Menurut kutipan dari situs web resmi Unair pada hari Senin (5/5/2025), Myrta menyatakan bahwa tindakan kekerasan seksual umumnya berhubungan dengan penggunaan kuasa yang tidak tepat serta kedudukan seseorang.

Orang dengan posisi tinggi cenderung memancarkan pesona tersendiri sehingga individu di sekelilingnya terpesona dan berminat untuk menimba ilmu dari mereka.

"Phenomena semacam ini memang sudah ada. Ini adalah sesuatu yang alami dalam masyarakat kita. Ketika kejadian tersebut berlangsung, pertanyaannya adalah: Apakah individu tersebut bisa mengendalikan godaan? Atau bahkan, mereka justru memanfaatkan situasi tersebut untuk melanggar aturan," paparnya.

Di samping itu, Prof Myrta menyebutkan bahwa kekerasan seksual terkait dengan berbagai aspek, termasuk dominannya budaya patriarchal, kesenjangan antara jenis kelamin, kurangnya moralitas, dan kontrol sosial yang tidak memadai.

Dia juga menggarisbawahi bahwa para penyerang biasanya mencari sasaran dengan sejarah traumatis di masa lalunya, membuat mereka lebih rentan terhadap manipulasi emosi.

“Kasus-kasus yang sering mampir ke kami dan yang saya amati, biasanya para pelaku mencari korban yang mempunyai trauma masa lalu sehingga menjadikan mereka lebih mudah dimanipulasi secara emosional,” ujarnya.

Kasus yang viral malah menekan korban

Myrta juga mengkritik viralitas kasus kekerasan seksual di media sosial, yang menurutnya justru lebih banyak merugikan korban.

Menurut dia, walaupun kasus-kasus yang terkenal dapat mendorong lembaga penegak hukum untuk bertindak lebih cepat, namun dampak buruknya masih lebih dominan.

"Para korban berpotensi menghadapiancaman, serangan balasan, atau malah mengalami penurunan kesehatan mental. Respons publik di media sosial sulit diprediksi, serta para pelaku yang menggunakan jasa buzzer untuk melakukan serangan balas," tandasnya.

Lebih lanjut, Myrta menekankan bahwa ketakutan korban dalam melaporkan pelaku yang memiliki posisi sosial tinggi menjadi hambatan besar.

Korban sering kali gentar melapor karena khawatir dianggap memfitnah atau mendapat serangan balik dari pendukung pelaku.

Selain itu ada stigma sosial dan rasa malu yang bisa sangat memengaruhi kondisi psikologi korban.

“Belum lagi stigma sosial, rasa malu, dicap tidak suci, dianggap mengundang. Jadi selalu ada celah yang mungkin disalahkan. Apalagi jika korban mungkin punya ketergantungan ekonomi maupun akademik pada pelaku,” pungkasnya.

336x280

Post a Comment

0 Comments