Wakil Papua di Pemilihan Putri Indonesia, Yokbet dan Theresia: Sorotan kebanggaan untuk Nusantara

iklan 336x280 atas
336x280 tengah
300x600

Laporan yang disusun oleh wartawan romero.my.id, Putri Nurjannah Kurita

romero.my.id, SENTANI - Yokbet Merauje yang merupakan Putri Indonesia dari Provinsi Papua serta Theresia Shamenta Novianty Kowirop Kaipman sebagai Putri Indonesia dari Provinsi Papua Selatan akan menggantikan peran daerah mereka dalam kompetisi Miss Indonesia pada tahun 2025.

Dalam pernyataan pers yang diterima oleh romero.my.id pada hari Minggu (4/5/2025), kendati kedua peserta tersebut belum memenangkan gelar dan masih bertahan dalam babak 16 besar Grand Final Putri Indonesia 2025 yang diselenggarakan di Convention Center, Jakarta, Sabtu lalu (2/5/2025), Theresia, sang puteri dari Papua Selatan tetap berhasil dinobatkan menjadi Puteri Indonesia dengan kecerdasan urutan dua.

Putri Indonesia 2023 dari Papua, Yunita Alanda Monim, menyebutkan bahwa Yokbet dan Theresia adalah contoh wanita Papau yang sungguh membanggakan.

Yunita menyebutkan bahwa kedua pihak telah memperlihatkan kekuatan luar biasa, keindahan bermacam-macam, ketangguhan, dan juga keprihtian mereka terhadap masalah sosial serta budaya di Papua.

"Baik Yokbet maupun Theresia keduanya mempunyai kemampuan tersendiri serta latar belakang yang sangat menarik," ujarnya.

Miss Asia Indonesia 2020 menyebutkan bahwa baik dia maupun pasangan mereka sudah mencapai pendidikan serta pencapaian-pencapaian lainnya sejak masih muda. Karena itu, Yokbet dan Theresia tumbuh sebagai wanita asal Papua yang berpartisipasi dalam perlombaan Miss Indonesia pada tahun 2025.

Kedua pihak memiliki tujuan dan janji serupa guna mengembangkan Papua serta Papua Selatan menjadi tempat yang lebih baik di segala bidang kehidupan, seperti pengembangan tenaga kerja.

"Kedua belah pihak ini menjadikannya sebagai perwakilan Puteri Indonesia dari tanah Papua yang sangat berkualitas dan membawa prestasi," kata Yunita.

Pembinaan yang lebih Intensif

Mengacu pada pengalamannya saat mengikuti kontes Putri Indonesia 2025, mantan Putri Sulawesi Selatan Papua tahun 2016 hingga 2019 tersebut menekankan pentingnya pelatihan yang lebih mendalam sejak dini. Pelatihan ini mencakup keterampilan public speaking atau kemampuan berpidato, serta pengetahuan tentang budaya lokal dan nasional harus dioptimalkan.

Di samping itu, dibutuhkan juga latihan terkait etika, karakter, serta pemahaman berbasis global karena ada standar tertentu yang mesti dipertimbangkan saat ikut kompetisi Putri Indonesia, yaitu;

Pertama, Beauty (Kecantikan) mengevaluasi tampilan fisik para peserta, mencakup posisi badan, kondisi kulit, kesehatan gigi, serta gaya berbusana.

Kedua, Brain (Inteligen) menilai wawasan luas, keterampilan komunikasi, serta pemahaman peserta tentang beragam topik.

Ketiga, Perilaku (Behavior), mengukur tata laku, etika serta bagaimana peserta bersosialisasi dengan pihak lainnya.

"Beberapa edisi belakangan ini, elemen tambahan seperti advokasi sosial dan lingkungan pun turut diperhitungkan," ungkap Yunita.

Duta Bahasa dan Duta Bahari tahun 2018 menjelaskan bahwa tahapan penyeleksian bagi para peserta akan melalui beberapa ujian, termasuk pertunjukan catwalk, babak bertanya-jawab (motion challenge), serta pagelaran bakat seni budaya. Semua rangkaian tes ini disusun dengan tujuan untuk mengevaluasi setiap komponen penting dari kualifikasi mereka secara mendalam.

"Oleh karena itu, agar bisa menjadi Putri Indonesia, seorang peserta perlu memperlihatkan keserasian di antara penampilan luar yang cantik, kepintaran, tingkah laku yang baik, serta kapabilitas dalam memberi kontribusi positif terhadap masyarakat," ungkap Yunita.

Bagi Yunita, standar kecantikan  adalah ideal dan tidak sempit serta ekslusif. Dalam konteks Puteri Indonesia, kecantikan tidak hanya dilihat dari penampilan fisik saja, tetapi juga mencakup keunikan karakter, kecerdasan, kepribadian dan kemampuan untuk memberikan kontribusi positif seperti di Papua.

“Semua perempuan Indonesia, tanpa memandang asal usul, memiliki kesempatan yang sama untuk tampil dan menginspirasi,” ucap Duta Humas Polda Papua 2016 itu.

Pemda Harus Memberikan Dukungan

Yunita meminta pemerintah daerah di Papua, agar lebih proaktif dalam memberikan dukungan terhadap calon Puteri Indonesia yang berasal dari masing-masing provinsi di Papua.

Salah satunya adalah melibatkan mereka dalam kegiatan sosial, budaya, dan kegiatan edukatif di daerah.

Hal ini akan membentuk mereka menjadi sosok sole model yang mampu menginspirasi  masyarakat, sekaligus membantu menjalankan program-program pemerintah daerah (pemda) di  Papua.

"Panduan pembinaan yang tepat sangatlah krusial. Pemerintah daerah bisa menyiapkan program latihan dengan mendatangkan para ahli profesional dalam hal peningkatan kemampuan bicara, pengembangan kepribadian, serta advokasi masyarakat," jelas Duta Wisata Papua 2016 tersebut.

Menurut Yunita, penguatan promosi budaya setempat perlu dilakukan supaya para putri bisa mewakili identitas daerahnya di pentas nasional dan bahkan internasional.

"Kolaborasi dengan institusi pendidikan serta sektor bisnis harus diperkuat guna menciptakan lebih banyak kesempatan untuk pertumbuhan pribadi bagi para kandidat wali kota atau bupati, meliputi aspek ilmu pengetahuan maupun non-ilmiah," jelas wanita yang lahir di Sentani pada tanggal 17 Juni 1997 tersebut.

Yunita menginginkan agar Miss Papua mendatang bisa jadi simbol kekuatan wanita dari Timur Indonesia yang mandiri, percaya diri, kental dengan budayanya, tangguh serta mampu bertarung di kancah lokal hingga global.

Sebagai seorang wanita dari Papua, terdapat kewajiban etis untuk menjaga warisan budaya serta menginformasikan kepada dunia bahwa Papua menyimpan kemampuan dan bakat yang luar biasa.

Maka, Putri Indonesia asal Papua dituntut untuk bisa menyampaikan pesan budaya Papua serta jadi teladan konkret bagi pemuda, khususnya wanita, sehingga mereka tetap merasa yakin pada kemampuan sendiri, memimpikannya besar, dan bersukacita sebagai seorang anak Papau.

"Harapannya adalah Putri Indonesia ke depan tidak hanya akan mewakili namanya daerah saja, melainkan juga mengembangkan nilai-nilai mulia dari Papua yaitu dengan melestarikan budaya, lingkungan, serta kemanusiaan," katanya.

"Lanjutkan langkahmu dengan penuh semangat, sebab masa depan Papua berada dalam genggaman wanita. Anda semua (wanita) merupakan harapan, suara, dan citra asli dari tanah Papua di hari esok," demikian katanya. (*)

336x280

Post a Comment

0 Comments