5 Tantangan Utama dalam Pelaksanaan Haji di Indonesia

iklan 336x280 atas
336x280 tengah
300x600

Jakarta, IDN Times - Mantan Direktur Bina Bina Haji Ditjen Haji dan Umrah Kementerian Agama (Kemenag), H Khoirizi H Dasir, menyebutkan ada beberapa problematika penyelenggaraan haji Indonesia.

Meskipun demikian, Khoirizi menyebutkan bahwa masalah tersebut bisa diminimalisasi. Salah satu caranya adalah melalui kolaborasi bersama seluruh pihak berkepentingan.

1. Ada lima problematika penyelenggaraan haji Indonesia

Khoirizi mengungkapkan adanya lima tantangan dalam penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia yaitu ketergantungan jemaah, batasan tempat dan waktu, serta pelaksanaannya yang berlangsung di luar negeri.

Petugas haji bersifat sementara, serta mencakup partisipasi berbagai pihak.

"Banyak sekali Jamaah asal Indonesia, ada yang datang dari Papua, Jawa Barat, dan berbagai wilayah lainnya; mereka bahkan berasal dari tempat-tempat terpencil sekalipun. Mereka jarang melihat kendaraan, namun harus melakukan perjalanan selama sembilan jam dengan pesawat, sementara membawa uang hanya cukup untuk keperluannya. Masalah utamanya adalah bahwa para jemaah ini kurang mandiri saat bepergian," ungkapnya pada kesempatan tersebut, yaitu dalam rangkaian Bimtek PPIH periode kedua di Asrama Haji Cipondoh, Banten, Minggu (4/5/2025).

2. Pentingnya partisipasi bersama seluruh pihak yang terkait

Dosen dari UIN Bandung menyebut bahwa untuk menyelesaikan masalah tersebut, dibutuhkan kolaborasi antara seluruh pihak yang terkait.

"Pesertanya tidak mandiri dan pekerjanya bersifat sementara. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi, bukan sikap merasa mengetahui semua hal. Namun, tantangan haji dapat dikurangi dengan melibatkan seluruh pihak terkait. Sebab ibadah haji merupakan tanggung jawab nasional," ungkapnya.

"Haji harus punya integritas, tak hitung-hitungan, kedua profesional, ketiga kerja sesuai ahlinya, ketiga punya inovasi dan terobosan, jangan ngumpet kalau ada jemaah membutuhkan, keempat tanggung jawab jangaan mengkambing hitamkan orang," sambungnya.

3. Pegawai perlu memiliki kemampuan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas

Khoirizi pun menekankan bahwa Petugas Pelaksanaan Ibadah Haji (PPIH) tak cukup berhenti pada pelayanan saja, namun mereka perlu dapat mendidik serta melindungi jemaah.

"Jangan sekadar melayani Pak. Itu salah. Jika jamaah tersesat, siapakah yang akan memberi petunjuk? Memberi petunjuk berarti mendidik, sehingga perlu dipahami. Hanya melayani tidak cukup, tetapi juga harus didampingi dan dilindungi. Itulah kewajiban kita," katanya.

"Jadwal sudah ditentukan, hanya waktunya yang disepakati. Bayangkan mengelola sebanyak 221 ribu orang tanpa ada pengawasan, bisa berantakan. Setiap negara memiliki perbedaan dalam hal budaya dan regulasi," tambahnya.

Jemaah, sesuai dengan yang disampaikan oleh Khoirizi, akan mengevaluasi PPIH mulai dari ujung rambut hingga ke kaki. Jika pelayanan kurang memuaskan, mereka tidak segan untuk mengkritik.

336x280

Post a Comment

0 Comments