romero.my.id - Dalam atmosfer sunyi Masjid Nabawi yang dipenuhi sinar emas serta jamaah sedang shalat, Maimunah Zebua duduk dengan tenang memakai mukena putih bertaburi renda ungu. Dia baru saja menyelesaikan shalat dhuhurnya saat ditemui pada hari Sabtu (3/5) lalu, di antara barisan wanita. Ekspresi senyum halusnya membawa banyak cerita: suatu perjalanan haji yang sesungguhnya tidak untuk dirinya sendiri, tetapi merupakan titipan dari sang ibu yang sudah meninggal dunia.
Wanita ini berasal dari Medan, Sumatera Utara dan merupakan bagian dari rombongan haji pertama dari provinsi tersebut. Akan tetapi, perjalanannya menuju tanah suci tidak didasari oleh pendaftaran biasa. Ceritanya mengenai kasih sayang seorang anak yang mewujudkan mimpi sang ibunda, yaitu almarhumah Darwati Pulungan berusia 67 tahun, yang telah meninggal hanya lima bulan sebelum kepulangan untuk menjalankan ibadah haji.
"Ibu sudah terdaftar untuk ibadah haji sejak 12 tahun yang lalu. Awalnya diperkirakan hanya menunggu selama delapan tahun, namun akibat pandemi COVID-19, waktu tunggunya menjadi lebih panjang hingga mencapai dua belas tahun," cerita Maimunah sambil mengedipkan mata ke bawah.
Semoga harapan tersebut sempat redup saat Darwati masuk dalam daftar tunggu untuk keberangkatan pada tahun 2024. Walaupun posisinya masih tidak menentu, beliau tetap bersemangat. Dia pun segera membayar biaya haji senilai Rp 52 juta dan mulai mengumpulkan semua peralatan yang dibutuhkan, termasuk pakaian, mukena, sampai koper.
“Ibu malah dikasih tahu berangkatnya tahun 2025, tapi beliau sama sekali tidak sedih. Seperti sudah siap,” kenang Maimunah lirih.
Meski nasib menentukan hal yang berbeda. Di tanggal 16 Januari, Darwati kembali kepada Sang Khalik pada usia 67 tahun tanpa mengalami penyakit apapun. Maimunah serta tiga bersaudara tersebut merasakan kesedihan yang mendalam, lebih-lebih lagi lantaran ibunda mereka kerapkali bercerita tentang niatnya untuk pergi haji.
Maimunah tidak mau terlarut dalam kesedihan dan memilih untuk mencari informasi dari Kementerian Agama di Tapanuli Utara. Di tempat itu, dia mengetahui bahwa hak hajinya sang ibu dapat dipindahkan kepada ahli warisnya.
"Secara sebenarnya belum ada persiapan untuk haji, karena saya tengah menyiapkan perkawinan putra sulung saya," katanya. Namun, dia sadar bahwa kewajiban dari kepercayaan ibu harus dipenuhi.
Perjalanannya dilalui dengan kesabaran. Maimunah bersedia melaksanakan perjalanan darat selama 12-14 jam dari Medan menuju Tapanuli Utara guna mengurus berkasnya. Dalam waktu yang tidak lebih dari satu minggu, putuslah keputusannya: dia secara resmi akan meneruskan jejak ibunya menjadi seorang jemaah haji.
Segala peralatan telah tersedia. Saya hanya seperti perlu membawa diri sendiri saja. Kini barang-barang tersebut digunakan oleh saya," katanya sambil menampakkan senyuman kecil diwujudkan pada wajahnya yang basah karena air mata kesedihan terharu.
Di Madinah, Maimunah mengambil keuntungan dari kedekatan hotelnya dengan Masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat lima waktu di masjid yang merupakan salah satu tempat paling sakral bagi umat Muslim tersebut. Meskipun emosinya masih bercampur, dia berusaha meredam perasaannya.
"Bisakah berangkat haji namun dengan perasaan bercampuradukkan. Perasaannya masih tersentuh oleh kesedihan, sementara itu waktunya untuk keberangkatan telah tiba. Saya bahkan tak sempat menghadiri sesi persiapan karena semuanya terjadi begitu saja dan acaranya pun sudah usai," katanya.
Pergianya Maimunah ke Tanah Suci menunjukkan bahwa rasa sayang dan pengabdian seorang anak dapat mewujudkan impian orang tuanya yang belum terselesaikan. Walaupun si ibu tak ikut serta secara fizikal, keterlibatan beliau sangat dirasakan pada tiap jejak kakiputiannya di Baituluhur.
0 Comments