CFD Pertama di Depok: Kemacetan dan Penggelapan Uang PKL

iklan 336x280 atas
336x280 tengah
300x600

DEPOK, romero.my.id - Penyelenggaraan car free day CFD pertama di Kota Depok, Jawa Barat, pada hari Minggu (4/5/2025), meninggalkan tugas tersisa bagi pemerintah setempat.

Terdapat beberapa tugas rumah yang perlu diselesaikan oleh Pemerintah Kota Depok supaya pelaksanaan CFD dapat menjadi lebih baik di masa mendatang.

Permasalahan yang muncul pada hari pertama CFD di Depok meliputi masalah kemacetan lalu lintas serta adanya pungutan liar (punlish) terhadap PKL yang berjualan di pinggir Jalan Margonda Raya.

Macet

Walaupun CFD dimaksudkan untuk menciptakan area publik tanpa adanya kendaraan bermotor, namun tampaknya aliran lalu lintas dari jalur Jalan Margonda Raya ke Jalan Dahlia malah mengalami kemacetan yang signifikan.

Tertutupnya sebagian jalur utama mengakibatkan antrian panjang kendaraan sampai ke depan D'mall Depok serta ITC Depok.

Maya (36), seorang penduduk dari Pancoran Mas, mengungkapkan keluhan tentang kemacetan lalu lintas akibat penutupan jalanan.

"Cukup seru lho (CFD) dengan suasana yang ramai dan berbagai aktivitas, tetapi sayangnya menjadi macet, terutama bagi orang-orang yang ingin melintasi Margonda namun tidak mengetahui adanya acara CFD," ungkap Maya.

Reno (27), seorang warga dari Kukusan, mengomentari tentang persiapan yang masih kurang terkait dengan rekayasa lalu lintas selama acara CFD.

"Mungkin karena ini kali pertamanya, makanya kurang teratur. Banyak kendaraan yang masih kesulitan menentukan arah berputar. Tadi saya ingin pergi ke stasiun tetapi harus memutar dengan jarak sangat jauh lantaran adanya penutupan jalur. Kemacetannya pun meluas hingga area Juanda," katanya.

Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Metro Depok, Kompol Yayat Supriyatno mengaku bahwa telah terjadinya kemacetan akibat dari kegiatan Car Free Day tersebut.

"Betul sekali, mengingat ini adalah pusat kota Depok sehingga kemacetan sangat mungkin terjadi. Pemerintah Kota Depok berusaha supaya aliran lalu lintas tidak sepenuhnya tertutup, namun hanya dipindahkan," jelas Yayat.

Saat itu, Wali Kota Depok Supian Suri mengungkapkan permohonan maafnya karena adanya kemacetan lalu lintas.

"Saya minta maaf kepada warga Depok yang mungkin pada kesempatan kali ini ada di antara kalian yang mengalami kendala saat melewati Jalan Margonda karena adanya penumpukan lalu lintas," ujar Supian Suri setelah melakukan inspeksi CFD Depok.

“Sekali lagi mohon maaf kepada para pengguna jalan, khususnya yang menggunakan kendaraan mobil atau motor,” lanjut dia.

PKL dimintai pungli

Para pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan saat CFD di Depok mengeluhkan soal adanya pungli.

Salah satunya, Ahmad (42), pedagang minuman, yang mengaku dimintai uang Rp 20.000 oleh seseorang yang mengaku anggota karang taruna.

"Beberapa orang meminta itu dengan alasan untuk kebersihan atau keamanan, tetapi tidak disebutkan asalnya secara jelas. Jika kami tidak memberikan, nama kami akan direkam. Saya pun tidak mengerti tujuannya, tapi menurut mereka ini dari Karang Taruna Wilayah Margonda," ungkap Ahmad.

Hal serupa juga disampaikan oleh Sari (35), seorang pedagang makanan ringan di CFD Depok. Dia turut mengeluhkan ketidakefektifan pemantauan terhadap praktik pungutan liar yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Depok.

"Padahal kita telah mengetahui bahwa CFD adalah untuk publik, namun ternyata ada orang-orang yang memanfaatkannya secara tidak benar. Seharusnya pemerintah Kota Depok melakukan penegakan hukum terhadap hal tersebut. Lebih baik lagi jika pengawasan dapat dilakukan serta memberikan peringatan kepada semua pihak agar tidak adanya praktik suap menyuap dalam kegiatan CFD," ungkapnya.

Sri Wahyuni (45), seorang pedagang minuman yang berada di depan Mall ITC Depok, menyatakan bahwa dia dipinta biaya tambahan dengan alasan sebagai dana kebersihan.

"Katanya tentang kontribusi kebersihan, namun tidak jelas pihak mana yang mengajukan. Terdapat beberapa orang memakai vest tetapi tanpa adanya identitas resmi. Seharusnya kita dapat bekerja sama dengan petugas dan pengumpulan dana semacam itu sebaiknya dihindari," katanya.

"Saya hanya menjual minuman saja dan keuntungannya pun cukup terbatas. Sejak pagi hingga sekarang pendapatannya baru mencapai lebih dari Rp 100.000, belum lagi mendekati angka Rp 150.000," ujarnya.

Hingga saat ini, Pemerintah Kota Depok belum mengeluarkan pernyataan tentang adanya tuduhan pemungutan uang tidak resmi di sekitar area CFD itu.

Antusiasme warga

Terlepas dari keterbatasannya, pembukaan CFD pertama di Depok mendapat sambutan yang meriah dari para penduduk setempat. Sejak jam 05.30 WIB, masyarakat kota Depok telah mulai mengisi area CFD di Jalan Margonda Raya.

Mereka tiba sambil memakai seragam olahraga lengkap, menenteng sepeda, atau hanya berkeliling bersama keluarga dengan gaya acuh tak acuh.

" Kami begitu gembira karena adanya CFD di Depok. Acara ini memberikan peluang bagi kami untuk bertemu dengan keluarga, melakukan olahraga, serta merasakan keindahan udara pagi," ungkap Rahma (25), penduduk dari Beji, yang hadir bersama putra-putrinya.

Pada saat yang sama, Dara (30) menyatakan dirinya sangat gembira karena Depok telah meluncurkan program CFD. Ia merasa puas sebab acara ini memungkinkannya untuk melakukan olahraga tanpa batasan.

"Sungguh senang rasanya akhirnya Depok memiliki ajang Car Free Day (CFD) juga. Biasanya saya bersepeda di area seputaran tempat tinggal, tetapi suasana menjadi sangat berbeda ketika jalan ditutup untuk pejalan kaki dan pesepeda, sehingga terasa lebih leluasa dan aman," ungkap Dara (30).

336x280

Post a Comment

0 Comments