Pemuda di Bangkalan Rintis Museum Unik: Display Uang Kerajaan Sriwijaya Hingga Negara Asing

iklan 336x280 atas
336x280 tengah
300x600

BANGKALAN, romero.my.id - Bangunan gedung putih yang terletak di Jalan KH Moh Kholil, Kelurahan Demangan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur menjadi tempat RP Salman Al Rosyid menghabiskan waktu.

Di dalam gedung itu, Salman menyimpan ribuan koleksi mata uang yang memiliki nilai histori.

Tak hanya mata uang yang digunakan oleh bangsa Indonesia sejak masa kerajaan, Salman juga menyimpan mata uang dari ratusan negara di dunia yang usianya ratusan tahun.

Kegemarannya mengoleksi uang itu dilakukan sejak ia masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar.

Saat itu, salman menderita disleksia. Kondisi tersebut membuat dirinya cukup dijauhi teman-teman sekolahnya.

Ia lalu mulai bermain dengan uang-uang koin yang disimpan setiap harinya. Satu per satu uang itu ia kumpulkan.

Melihat keunikan setiap bentuk dan detail gambar di uang tersebut, ia makin penasaran dengan uang koin dari berbagai tempat.

"Karena tidak punya teman, saya akhirnya bermain dengan uang koin saat itu. Yang menghibur diri saya ya cuma itu, uang koin," katanya, Sabtu (3/5/2025).

Minatnya terhadap hobi itu semakin lama semakin menjadi-jadi. Tidak tanggung-tanggung, ketika berada di kelas 5 SD, dia sudah mulai menggeluti aktivitas jual-beli uang kuno.

Seringkali, ayah Salman yang biasanya sibuk sering menjemputnya sendiri untuk bepergian dari Surabaya hingga Jakarta dengan tujuan mencari uang kuno.

Ternyata, hobinya juga berfungsi sebagai obat untuk Salman yang mengalami disleksia. Di samping menjalani perawatan medis, kesukaannya pada dunia numismatik membantu meningkatkan kemampuan memori Salman dengan signifikan.

Pada tahun 2019, dia memperoleh rekornas sebagai pemegang koleksi uang kuno terbesar dan termuda di tanah air.

Bermacam-macam penghargaan didapatkannya dan hal itu menambah gairahnya untuk mengumpulkan uang kuno yang semakin meningkat.

Mata uang Sriwijaya

Bukan cuma tentang mengumpulkan dan mencari uang kuno, Salman juga belajar riwayat dari setiap uang yang dia miliki. Bahkan, ia jauh lebih tertarik pada jenis uang yang punya makna sejarah.

"Koin ini berasal dari Kerajaan Sriwijaya dan disebut Kati, dipakai antara abad ke-6 sampai ke-9 Masehi saat agama Hindu-Buddha mendominasi," jelasnya sembari memperlihatkan kumpulan Katii dalam beragam rupa.

Koin tersebut terlihat seperti pelapisan tanduk. Media pertukaran dari bahan tembaga ini sangat istimewa karena masing-masing model mempunyai bobot yang tidak sama.

Dalam 1 Kati memiliki bobot sekitar 70 gram. Berat itulah yang akan menentukan nilai tukar. Semakin berat bobotnya maka semakin besar nilainya.

"Masa itu belum mengenal bentuk kepingan uang koin. Di zaman itu, berbagai negara juga belum mengenal uang koin," katanya.

Mata uang tersebut ia peroleh dari rekannya yang merupakan kolektor uang kuno yang ada di Kalimantan dan Sulawesi.

Menurut Salman, sang pemilik asli meraup uang dengan mengeksplorasi aliran sungai tempat dia menemukan pecahan guci dari zaman dahulu yang berisikan Kati serta barang-barang bersejarah lainnya.

Kumpulan uang koleksian Salman sangat komplet. Ia bahkan memajang berbagai jenis uang yang mencakup periode waktu lama dalam etalase kaca dan dilengkapi dengan catatan historis pendeknya.

Mata uang Jerman

Untuk mata uang asing, salah satu kumpulan yang mempunyai nilai sejarah adalah mata uang Jerman.

Mata uang yang disebut Mark diterbitkan selama periode transisi dari Perang Dunia I ke Perang Dunia II, tepatnya di tahun 1922.

Salman mengatakan bahwa ketika itu di Jerman sedang berlangsung hiperinflasi yang menyebabkan nilai mata uang anjlok drastis. Bahkan, sejumlah besar mark tidak bernilai setinggi beberapa tong kayu bakar.

"Foto dari kejadian tersebut pun tersimpan oleh saya, di mana pada waktu itu lembar-lembar mark dibakar. Masyarakat tak dapat memperoleh kayu bakar yang cukup, namun stok uang kertas sangat berlimpah. Oleh karena itu, agar tetap hangat, mereka menggunakan uang tersebut untuk dipbakar," paparnya.

Koleksi yang banyak dari uang logam dan uang kertas tersebut mendorong Salman untuk berencana mendirikan sebuah museum.

Berbekal tabungan dari uang sakunya, di tahun 2021, ia membangun museum di tanah yang terletak disamping bangunan tua rumah kakek dan neneknya. Museum itu ia namai Museum Perusnia.

"Pada tahun ketiga di sekolah menengah atas, saya mendirikan museum ini menggunakan uang pribadi. Jika para pengunjung bisa masuk ke sini secara cuma-cuma. Sedangkan untuk pemeliharaan museum, saya menggunakannya juga dari tabungan pribadi," katanya.

Pendapatan Salman saat ini bukan dari museum. Ia memiliki pekerjaan lain, yakni sebagai pengajar dan penulis buku. Tak jarang ia diundang mengisi seminar bertema sejarah.

Laki-laki yang lahir pada tanggal 8 Mei 2001 menyatakan bahwa dia sudah mempunyai koleksi sebanyak 2.600 lembar uang, meliputi berbagai jenis koin dan kertas dari dalam negeri serta 156 negara lainnya di seluruh dunia.

Museum yang dimiliki Salman ini saat ini menjadi destinasi favorit pendidikan bagi warga setempat, terutama siswa-siswa yang ingin mempelajari sejarah perubahan mata uang di Indonesia.

" Hampir tiap harinya pelajar datang ke sini. Ada juga cukup banyak mahasiswa dari Unair dan Unesa yang berkunjung guna menuntaskan skripsi mereka, ya tentunya dengan pertolongan saya," katanya.

Para tamu tidak hanya datang dari dalam negeri. Mereka juga sering menerima kunjungan dari turis mancanegara yang berminat untuk mempelajari sejarah mata uang.

"Beberapa orang datang dari Belanda, Australia, dan Amerika hanya untuk melihat kumpulan benda-benda tersebut dan mempelajari historinya," ujarnya.

Seorang pengunjung museum bernama Shanum menyatakan ketertarikanannya pada kumpulan artefak Salman. Dia merasakan bahwa koleksi yang ada di Museum Perusnia sangat komprehensif.

"Koleksinya lengkap dan mas Salman juga menjelaskan secara detail sejarah tiap mata uang dari masa ke masa. Jadi kita pulang dari sini dapat banyak ilmu baru," ujarnya.

336x280

Post a Comment

0 Comments