Pria Tuai Pujian Berkat Kemurahan Hati,Tiap Bulan Kirim Uang ke Ortu Meski Gaji Bulanannya Sedikit

iklan 336x280 atas
336x280 tengah
300x600

Pria ini mendapat apresiasi dari publik karena tetap menabung bagi orang tuanya meskipun penghasilannya setiap bulan terbatas.

romero.my.id - Tindakan seorang laki-laki berhasil menyentuh hati penontonnya dan membuat mereka merasa tersentuh.

Pria yang tak disebutkan identitasnya ini selalu menyisihkan uang untuk orangtuanya.

Meskipun penghasilan setiap bulannya tidak banyak, dia masih terus memikirkan kebutuhan keluarganya.

Dikutip dari mStar, Senin (5/5/2025), memasuki dunia kerja bukanlah tugas yang mudah karena banyak tantangan yang harus diatasi.

Hal terpenting ialah mengelola keuangan karena bila terjadi kesalahan, dampaknya bisa sangat signifikan.

Akibatnya semua akan kacau karena terlalu banyak janji pembayaran setiap bulan yang harus dipenuhi.

Pengguna media sosial itu mengekspresikan keterkejutannya karena masih ada anak yang tetap ingat akan kewajibannya terhadap orang tuanya.

Walaupun pendapatan setiap bulannya tidak terlalu besar.

Respect untuk mereka yang masih menyisihkan dana bagi orang tua walaupun penghasilannya pas-pasan.

"Meski upah sebesar RM1.500 (setara dengan Rp 5,7 juta) bagi orangtua, hanya perlu RM50 (sekitar Rp 193 ribu) saja menurut saya bila kalian menganggap tanggung jawab besar," katanya melalui platform media sosial tersebut.

Dalam unggahan yang sama, dia menyebutkan bahwa walaupun tidak seluruh orangtua menuntut rejeki dari anak-anak mereka, hal utama adalah berkah dalam rezeki tersebut.

Bahkan, katanya, kini muncul berbagai ide yang memungkinkan anak membalas budi orang tuanya dan membagi rezekinya.

"Bagi saya, minimal belikan mereka makanan.

Cari berkat dalam rejeki yang kita terima.

"Inginkan kekayaan? Berilah banyak sedekah, jangan pelit," demikian katanya.

Walaupun perilaku individu itu perlu ditiru, sebagian besar pengguna internet tetap berpendapat bahwa belum tentu seluruh orangtua mengerti arti bersyukur.

Beberapa waktu terjadi perselisihan antara orangtua dan anak karena perbedaan pemahaman tentang kondisi si anak.

Banyak orang mengalami perasaan serupa.

"Tetapi, sebagai anak-anak, kita perlu sering kali berkorban dan sabar," ujar seorang pengguna media sosial.

Di sisi lain, tidak sedikit orang yang menyarankan agar melaksanakan praktik membagikan rejeki karena meyakini bahwa hal tersebut bisa membawa berkah dalam keseharian mereka.

"Saat kita menyisihkan sebagian uang untuk orang tua walaupun jumlahnya kecil dikarenakan pendapatan kita pas-pasan, kita masih merasa itu sudah mencukupi," jelas salah satu netizen lain.

Gaji Mengejutkan, Pria di China Lebih Suka Hidup di Mobil Meskipun Sudah Punya Rumah Berlantai Empat

Beredar cerita tentang seorang lelaki di China yang memutuskan untuk hidup di mobil meskipun ia memiliki rumah bertingkat empat di tempat asalnya.

Lelaki yang bekerja sebagai seorang programmer tersebut sudah menetap di mobilnya selama empat tahun terakhir.

Pilihan aneh itu tidak dipengaruhi oleh faktor ekonomi, tetapi semata-mata disebabkan oleh keinginannya untuk menikmati pola hidup nomaden kontemporer yang sedang dia jalani.

Menurut laporan South China Morning Post, seorang lelaki berusia 41 tahun yang bernama Zhang Yunlai berasal dari Kota Yangjiang di Propinsi Guangdong, daerah bagian selatan Tiongkok.

Lima tahun yang lalu, dia memilih untuk hijrah ke Shenzhen, suatu metropolitan di bagian selatan negeri itu, dengan tujuan mengembangkan jalannya dalam bidang programming.

Pada awal pindahnya, Zhang mengikuti pola hidup biasa: menetap di sebuah apartemen kecil dan berangkat kerja secara berkala tiap harinya.

Pada waktu tersebut, dia mengeluarkan kira-kira 2.500 yuan (setara dengan Rp 5,7 juta) tiap bulannya sebagai biaya penginapan.

Akan tetapi, perjalanan camping di taman itu memberikan inspirasinya untuk mengadopsi gaya hidup yang lebih sederhana.

Zhang membeli mobil listrik empat tahun yang lalu dan menyadari bahwa bagian belakang memiliki cukup ruang untuk meletakkan kasur, sehingga memudahkannya untuk beristirahat dengan nyenyak.

Sejak saat itu, dia menghabiskan waktunya untuk tidur di mobilnya pada hari-hari kerja.

"Menggunakan mobil listrik memungkinkan Anda menghidupkan AC serta menempatkan ranjang di dalamnya sehingga membuat tidur di sana menjadi sangat nyaman," ungkap Zhang.

Selama hari kerja, dia makan di kafetaria perusahaan, mandi di pusat kebugaran, dan berkendara ke stasiun pengisian daya untuk mobilnya.

Dia kemudian menemukan spot yang sunyi di dalam taman dan menyusun kasurnya di mobil sebelum akhirnya tertidur.

Zhang menyebutkan bahwa di taman itu terdapat kamar mandi publik berstandar "lima bintang" yang bisa digunakan untuk mencuci. Dia biasanya mengepel pakaianannya saat hari libur akhir pekan.

Zhang juga menyebutkan bahwa dengan memilih gaya hidup di mobil, dia hanya merogoh kocek sekitar 100 yuan (setara dengan Rp 229 ribu) per harinya—which covers makanan dan keperluan lainnya.

Bagi masalah tempat parkir, dia mengeluarkan dana kurang lebih 6 yuan (setara dengan Rp 13.700) tiap malam, dan juga harus menambahkan biaya parkir harian di wilayah perkantoran yang mencapai 20 yuan.

Walaupun kelihatan seolah-olah sebagai pilihan hidup yang sederhana, Zhang tegaskan bahawa keputusan beliau tidak disebabkan oleh tekanan kewangan.

Sebalikanya, dia dengan sengaja memilih cara hidup ini karena menganggap dirinya lebih leluasa, terbebas dari kebiasaan monoton, serta menikmati kesenangan yang didapat saat menjelajahi jalan-jalannya melalui mobilnya.

"Saya tidak merasakan beban finansial yang berat. Meskipun ada orang yang menawarkan tempat tinggal tanpa biaya sewa, saya tetap tak ingin berganti lingkungan. Kompleks perumahan ini jauh lebih nyaman dibanding apartemen standar dan memberikan rasa kemerdekaan bagi saya," ujarnya.

Dia menyatakan bahwa keputusan tentang cara hidupnya sudah menghasilkan penghematan sebesar 100.000 yuan (setara dengan Rp 229 juta) dalam rentang waktu tiga tahun terakhir.

Zhang mempunyai rumah bertingkat empat dengan luas 400 meterpersegi di desa asalnya.

Sebelum berpindah ke Shenzhen, dia bekerja secara remote dan mendapatkan lebih dari 10.000 yuan per bulan.

Setelah penugasan tersebut selesai, dia pindah ke Shenzhen guna bekerja sebagai programmer dan saat ini mendapatkan gaji ratusan juta yuan per bulannya.

Banyak developer yang mengakhiri karier mereka pada usia 35 tahun. Saya merasa sangat beruntung masih diberi kesempatan untuk bekerja di Shenzhen.

"Saya merencanakan untuk terus bekerja selama beberapa tahun lagi sebelum kembali ke rumah dan bertemu dengan keluarga," ungkap Zhang.

Setiap akhir pekan, Zhang menyempatkan diri untuk pulang ke rumah. Selain mencuci pakaian, momen itu ia manfaatkan untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga tercinta.

"Riwayat perjalanan ini mencapai jarak 300 kilometer, namun saya mampu menyelesaikan tiga malam setiap minggunya di rumah. Saya hanya berada di Shenzhen gunanya untuk meningkatkan pendapatan," ungkap Zhang.

Cerita tersebut, seperti dilansir dari stasiun Radio dan Televisi Guangdong, telah menimbulkan perdebatan yang heboh di media sosial Tiongkok bagian darat.

"Pastinya dia memiliki kondisi kesehatan yang sangat bagus, dan musim dingin di Shenzhen tentu terasa lebih hangat. Kedua hal itu membuat saya merasa cemburu," ungkap seorang pengguna internet.

Sementara itu, orang lain menyatakan: "Dia bisa jadi akan menggunakan seluruh tabungannya untuk biaya jalan tol."

(TribunTrends/Nafis/Tiara)

336x280

Post a Comment

0 Comments