DEPOK, romero.my.id - Penyelenggaraan car free day CFD pertama di Kota Depok, Jawa Barat, pada hari Minggu (4/5/2025), diterima dengan penuh semangat oleh masyarakat setempat.
Mereka membanjiri jalan Margonda Raya sejak pukul 05.30 WIB.
Mereka tiba sambil memakai seragam olahraga lengkap, menyandangkan sepeda, atau hanya jalan-jalan santai bersama anggota keluarga.
"Kami sungguh gembira karena adanya CFD di Depok. Hal ini memberikan peluang bagi kami untuk bertemu dengan keluarga, melakukan olahraga, serta merasakan keindahan udara pagi," kata Rahma (25), penduduk dari Beji, yang hadir bersama keturunannya.
Pada saat yang sama, Dara (30) menyatakan dirinya gembira karena Depok telah mengadakan program CFD. Ia merasakan manfaat dari acara tersebut sebagai kesempatan untuk bergerak dan bermacam-macam aktivitas olahraga tanpa khawatir.
"Sungguh senang rasanyaakhirnya Depok juga memiliki acara Car Free Day(CFD). Biasanya saya bersepeda di area sekitar tempat tinggal, namun suasana menjadi sangat berbeda ketika jalan ditutup, sehingga terasa lebih leluasa dan aman," ungkap Dara (30).
Di sisi lain dari keterbukaan hati masyarakat Depok yang tidak perlu lagi berpergian jauh untuk mengikuti CFD, terdapat juga sejumlah keluhan seperti kemacetan lalu lintas serta adanya pungutan liar (pungli).
Macet
Meski CFD bertujuan membuka ruang publik bebas kendaraan bermotor, arus lalu lintas dari ruas Jalan Margonda Raya menuju Jalan Dahlia justru terpantau macet.
Pemblokiran sebagian jalur utama mengakibatkan kemacetan yang meluas hingga ke area di depan D'mall Depok serta sampai ke ITC Depok.
Maya (36), warga Pancoran Mas, mengeluhkan terkait kemacetan yang terjadi imbas penutupan jalan.
"Cukup seru nih (CFD), atmosfernya ramai dengan berbagai aktivitas, namun tentunya menjadi macet, terutama bagi orang-orang yang ingin melintasi Margonda tetapi tidak mengetahui adanya acara CFD," ungkap Maya.
Reno (27), seorang penduduk dari Kukusan, mengomentari bahwa persiapan terkait dengan rekayasa lalu lintas selama acara CFD masih kurang memadai.
"Sepertinya karena ini pengalaman pertama, makanya belum teratur. Ada banyak kendaraan yang masih kesulitan menentukan arah mana yang benar. Tadi saya ingin pergi ke stasiun tetapi berputar jauh sekali lantaran beberapa jalanan ditutup. Kemacetannya pun sangat parah hingga mencapai area Juanda," katanya.
Kepala Satlantas Polres Metro Depok, Kompol Yayat Supriyatno, mengakui bahwa ada penumpukan lalu lintas akibar dari kegiatan CFD tersebut.
"Betul sekali, mengingat ini adalah pusat kota Depok sehingga kemacetan sangat mungkin terjadi. Pemerintah Kota Depok pun berusaha supaya arus lalu lintas tidak sepenuhnya tertutup, namun hanya sebagian yang diarahkan," jelas Yayat.
Sementara itu, Wali Kota Depok Supian Suri menyampaikan permohonan maaf mengenai kejadian kemacetan lalu lintas tersebut.
"Saya minta maaf kepada warga Depok yang mungkin pada kesempatan hari ini merasakan gangguan saat melewati Jalan Margonda karena adanya kemacetan ringan," ujar Supian Suri setelah mengunjungi CFD Depok.
"Saya sekali lagi minta maaf kepada semua pemakai jalan raya, terutama mereka yang mengendarai mobil atau sepeda motor," tambahnya.
PKL dimintai pungli
Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menjual barang selama acara Car Free Day (CFD) di Depok mengadu tentang adanya praktik pemerasan.
Salah satu dari mereka adalah Ahmad (42), seorang penjual minuman, yang menyatakan bahwa dia diminta untuk membayar sebesar Rp 20.000 kepada seseorang yang mengklaim dirinya sebagai anggota karang taruna.
"Beberapa orang meminta itu, mereka mengatakan untuk tujuan kebersihan atau keamanan, tetapi asal-usulnya tidak jelas. Jika kami tidak memberikannya, nama kami akan dicatat. Saya sendiri tidak begitu paham untuk apa ini, tapi menurut mereka hal tersebut berasal dari Karang Taruna wilayah Margonda," ungkap Ahmad.
Sama halnya dengan perasaan Sari (35), seorang pedagang makanan ringan di CFD Depok, yang mengeluhkan kurangnya pengawasan terhadap praktik suap dan rasuah tersebut oleh Pemerintah Kota Depok. Ia turut meratapi ketidakefektifan pemantauan dari otoritas setempat.
"Sekali pun kita telah mengetahui bahwa CFD adalah program bagi publik, tetapi masih saja ada orang yang mengambil keuntungan dari situ. Pemerintah Kota Depok seharusnya melakukan penegakan hukum terhadap hal tersebut. Jika memungkinan, pengawasan harus dilakukan serta memberikan peringatan agar tidak adanya praktik suap atau rasuah selama acara CFD," ungkapnya.
Sri Wahyuni (45), seorang pedagang minuman yang berada di depan Mall ITC Depok, menceritakan bahwa dia diminta memberikan suap dengan alasan biaya pemeliharaan kebersihan.
"Katanya tentang bayar biaya kebersihan, namun tidak jelas pihak mana yang mengajukan permintaan tersebut. Beberapa orang memakai rompi tetapi tanpa adanya bukti kewenangan formal. Seharusnya kita dapat bekerja sama dengan petugas, daripada terjadi pengumpulan dana seperti itu," ujarnya.
"Saya hanya menjual minuman dan keuntungannya pun terbatas. Sejak pembukaan awal, omzetnya baru sekitarRp 100.000 lebih, belum mencapai Rp 150.000," katanya.
Hingga saat ini, Pemerintah Kota Depok belum memberikan klarifikasi mengenai adanya kemungkinan pemungutan uang yang tidak sah di zona CFD itu.
0 Comments