romero.my.id Berikut ini merupakan kesaksian utama dalam kasus pembantaian seorang ibu dan anak di Kabupaten Rejang Lebong Propinsi Bengkulu yang terjadi pada hari Jumat, 2 Mei 2025.
Remaja ID (13), yang merupakan putra dari tersangka GU (42) dan saat ini masih dicari oleh kepolisian, menjadi saksi penting dalam kasus ini.
ID menyadari bahwa GU telah membunuh ibunya yang tiri, Euis Setia (42), serta adik tirinya, Gaidah Marwa Wijaya (14).
Walaupun tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri, ID rupanya berada di tempat kejadian pembunuhan ibu dan anak tersebut.
ID mengalami dampak psikologis yang sangat kuat hingga memerlukan bantuan pendampingan akibar dari insiden itu.
Kepala UPTD PPA Rejang Lebong, Titin Verayensi, mengonfirmasi adanya saksi kunci pembunuhan ibu dan anak.
Selain itu, Titin juga menjelaskan bahwa pihaknya telah turun memberikan pendampingan terhadap ID.
"Kita berikan pendampingan karena anak itu sekarang trauma berat, ia menyaksikan meskipun tidak melihat secara jelas perbuatan ayahnya itu," kata Titin.
Titin menyebutkan bahwa keadaan si anak saat ini sangat terkendala oleh rasa takut dan trauma yang mendalam.
Si anak itu tidak menduga bahwa ibu tiri dan kakak tirisnya meninggal dalam suatu insiden yang mengerikan.
"Apa lagi dia menyaksikan ketika sang ayah menampar ibunya, namun tak sadar bahwa senjata yang digunakan adalah sebuah parang, dan ia pun melihat tangannya bercak darah," jelas Titin.
Berdasarkan kisah yang diceritakan oleh sang anak, sebenarnya mulanya ada pertengkaran diantara bapaknya dan Euis Setia (42), yaitu ibu tiri-nya, pada hari Rabu tanggal 30 April 2025.
Berikutnya, dia menyaksikan bapaknya sedang memukuli ibunya yang kandung.
Tetapi pada waktu itu, si pemuda tersebut tidak menyadari bahwa sang bapak menghantamnya dengan senjata tajam berupa parang dan hanya melihat bagian batangnya saja.
Setelah menampar ibunya yang tiri, sang bapak pun masuk ke dalam kamar saudara perempuan tirinya yaitu Gaidah Marwa Wijaya (14).
Mendapati hal tersebut, sang bocah perempuan pun langsung merasa takut dan lantas melarikan diri dari dalam rumah. Dia kemudian berlari mencari bantuan dari masyarakat di sekitarnya.
Sayangnya, penduduk setempat hanya mengira bahwa kejadian di hari tersebut hanyalah perselisihan keluarga biasa.
Tak lama dari itu, ayahnya menghampirinya dan memberikan uang agar pergi dari tempat tersebut.
Ayahnya itu tak memberikan penjelasan lain dan langsung kembali ke dalam rumah. Saat itu, remaja tersebut melihat tangan ayahnya sudah berlumuran darah.
Semenjak kejadian itu, ia merasa ketakutan dan trauma yang sangat amat mendalam. Remaja ini pulang ke rumah ibu kandungnya.
Berikutnya, mereka berjumpa dengan UPTD PPA Polres Rejang Lebong setelah mengetahui tentang temuan jenazah Euis dan Gaidah pada hari Jumat, 2 Mei 2025.
Remaja gadis itu menerima bimbingan melalui sesi konseling serta dukungan dari seorang psikolog guna meningkatkan kondisi mental si anak.
Anak tersebut juga ikut memberikan keterangannya di Mapolres Rejang Lebong dengan pengawalan dari UPTD PPA Rejang Lebong.
Kini gadis itu sudah berada dalam lingkungan yang aman untuk sementara waktu. Beberapa pihak sedang berusaha menyediakan dukungan terbaik supaya kondisi psikologis si anak dapat pulih.
Sosok Gaidah
Aturan Marwa Wijaya (14), seorang pelajar dari SMP Taman Siswa Rejang Lebong, ditemukan meninggal dunia dengan keadaan tragis bersama sang ibu, yaitu Euis Setia (42), di tempat tinggal sewaan mereka yang berlokasi di Kelurahan Kesambe Baru, Kecamatan Curup Timur, Kabupaten Rejang Lebong, Propinsi Bengkulu pada hari Jumat tanggal 2 Mei 2025.
Kedua orang tersebut diduga sebagai korban pembunuhan oleh ayah tirinya Gaidah.
Sekolahnya tiba-tiba menjadi suram. Berita buruk tersebut dengan cepat tersebar di antara para siswa dan pengajar di Sekolah Menengah Pertama Taman Siswa Rejang Lebong, tempat Gaidah belajar.
Aturan saja, Gaidah yang terkenal sebagai anak ceria dan mudah berbaur, kini hanyalah masa lalu.
Walaupun baru bergabung sejak Februari 2025 kemarin, Gaidah telah menjadi bagian integral dari sekolah tersebut.
Hal ini disebabkan oleh tingkah polaannya yang ceria serta sifat ramah Gaidah yang menjadikannya orang yang mudah diajak berbaur dan bersosialisasi.
"Anak ini masih baru di sini, namun dia cukup ramah dan cepat berteman baik dengan kawan-kawannya serta para guru. Dia selalu bersemangat. Kami semua merasakan kekosongan besar karena absennya," jelas kepala Sekolah Menengah Pertama Taman Siswa Curup, Surya Lestari.
Surya menyebutkan bahwa setelah perayaan Idul Fitri 2025, Gaidah menjadi kurang sering ke sekolah. Alasannya belum jelas.
Pihak sekolah bahkan mencoba menghubungi pihak keluarganya dan berkomunikasi secara intens.
Tetapi siapa sangka, Gaidah yang terkenal dengan sifatnya yang ceria, rendah hati, dan baik hati sudah tiada saat ini.
"Sungguh terkejut dan tidak percaya pak," kata Surya selanjutnya.
Gaidah sempat terlihat bermain dengan teman-temannya beberapa hari sebelum ditemukan meninggal.
Tak ada yang aneh saat itu. Ia tertawa, bercerita seperti biasa seolah tidak sedang menyimpan luka.
Kini, yang tersisa hanyalah kenangan. Tentang seorang gadis remaja yang suka menyapa guru, yang tak segan membantu temannya.
Sosok yang sering tersenyum ramah, periang dan yang bercita-cita tinggi tapi hidupnya direnggut terlalu cepat.
Teman-temannya masih tak menyangka Gaidah pergi dengan sangat cepat dan dengan cara yang tragis.
"Tenang di sana Gai, cepat nian perginya, husnul khotimah Gai dan ibu" ujar salah satu sahabatnya sambil menangis.
Polisi Buru Suami Korban
Sosok terduga pelaku pembunuhan ibu dan anak di Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu yang kini tengah dicari polisi.
Polres Rejang Lebong saat ini tengah mencari keberadaan Gu (42) warga Desa Tasikmalaya Kecamatan Curup Timur Kabupaten Rejang Lebong, yang diduga kuat pelaku pembunuhan terhadap istrinya Euis Setia (42) dan anak tirinya Gaidah Marwa Wijaya (14).
Kedua korban diduga dihabisi terduga pelaku menggunakan senjata tajam.
Informasi diperoleh TribunBengkulu.com dari teman-teman terdekatnya, korban sejak akhir-akhir ini sering bercerita dan curhat terkait permasalahan rumah tangganya.
Rumah tangga korban dan terduga pelaku sering cekcok atau ribut mulut semenjak lebaran Idul Fitri 2025.
Awal mulanya keributan itu terjadi semenjak terduga pelaku membawa anak kandungnya untuk tinggal di rumah kontrakan tersebut.
Sehingga di rumah itu, berisikan 4 orang yakni korban, anak korban, terduga pelaku dan anaknya.
"Mulai ribut setelah lebaran, ributnya karena suaminya bawa anaknya, mulai dari sanalah sering ribut, ini dari cerita yang disampaikan korban sebelumnya," ungkap sumber yang merupakan teman dekat korban.
Teman-teman korban mengaku terkejut mendengar kabar korban dan anaknya meninggal dengan cara yang tragis.
Bahkan seakan tak percaya jika pelakunya adalah suaminya sendiri. Karena selama ini, terduga pelaku dikenal sebagai sosok yang ramah dan tidak pemarah.
"Hingga kini ia selalu bersikap baik dan tidak pernah kelihatan marah atau emosional, jadi kami sangat terkejut dan tidak mengira hal itu terjadi," tambahnya.
Pasangan ini telah mengikat tali pernikahan selama kira-kira 4 tahun terakhir.
Mereka berdua sudah menikah secara sirri dan kini bersama-sama dalam satu atap. Suami dari pihak korban ini biasanya bekerja sebagai pekerja konstruksi.
Berdasarkan data yang diperoleh, korban direncanakan untuk hari Sabtu tanggal 3 Mei 2025 mendatang hendak bepergian menuju kota Bengkulu. Rencananya mereka akan mengikuti kompetisi senam bersama dengan beberapa orang temannya tersebut.
AKP Sinar Simanjuntak dari Humas Polres Rejang Lebong menduga bahwa korban yang meninggal adalah karena tindakan kekerasan oleh suami atau ayah tirinya.
Mereka sekarang tengah berusaha menemukan keberadaan Gu. Suami keduanya sudah lenyap tanpa meninggalkan petunjuk apapun.
"Sangkaannya cukup kuat menuju arah itu, dia dibunuh oleh suami sendirinya atau bapak tiri dari anak yang menjadi korban," terangkan Sinar.
Sinar menyebutkan bahwa dugaan tersebut timbul berdasarkan kejadian pada Rabu (30/4/2025), di mana terdapat perdebatan antara korban dan suami-nya.
Setelah insiden itu, warga di lingkungan setempat menyaksikan suaminya meninggalkan rumah sambil memasukkan kuncinya.
Itu pula merupakan waktu terakhir sang suami korban terlihat dan kini sudah lenyap tanpa bekas.
"Menurut cerita dari warga setempat, terjadi pertengkaran di sana. Sejak kejadian tersebut, suami wanita itu hilang tanpa jejak dan diyakini sudah meninggal beberapa hari yang lalu sebelum akhirnya ditemukan," jelas Sinar.
Ada beberapa memar ketika korban pertama kali ditemui. Untuk Euis, dia memiliki luka sobek di tangan kanannya yang lebih dalam serta ada juga bekas luka di lehernya.
Sedangkan pada korban Gaida Marwa Wijaya ditemukan luka sajam di lehernya.
(romero.my.id)
Artikel ini telah tayang di Tribunbengkulu.com dengan judul Trauma dan Ketakutan, Remaja yang Menjadi Saksi Utama Pembunuhan Ibu-Anak di Rejang Lebong Dapatkan Bantuan Psikologis
0 Comments