Laporan oleh Reporter romero.my.id, Mario Giovani Teti
romero.my.id, BA'A Wakil Ketua DPRD Rote Ndao, Denison Moy menyuaratkan keresahan atas penyeberangan ilegal ke Australia yang kerap kali melalui wilayah Rote Ndao.
Denison Moy mengeluhkan kurangnya kapal perairan yang tersedia baik dari TNI AL ataupun Polairud Polda NTT guna melindungi Laut Selatan, Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurut dia, memiliki armada laut guna melindungi lautan dari sejumlah ancaman seperti pembajak, penyelundupan, serta penangkapan ikan tanpa izin sangatlah krusial.
"Sama seperti yang telah saya utarakan pada bulan Desember tahun sebelumnya mengenai kejadian dampak dari para imigran asal Bangladesh, hal tersebut merupakan sebuah ancaman bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kami menyaksikan bahwa insiden serupa kembali terulang dengan interval kurang lebih enam bulan sekali dan kami tidak boleh memandang remeh situasi ini," ungkap Deni kepada romero.my.id, Minggu (4/5/2025).
Polisi PDI Perjuangan ini menilai, Rote Ndao bagi para imigran telah menjadi akses yang mungkin paling aman. Tidak dapat dipungkiri akan ada lagi sekian banyak imigran kelak didorong masuk ke Rote Ndao, dan masih banyak yang belum terdeteksi.
"Nah, jalur deportasi imigran ke Australia melalui laut Rote ini kejadiannya hampir setiap tahun ada. Kita jangan jadikan ini sebagai hal sepele. Bisa saja memang imigran diselundupkan ke Australia dengan tujuan mencari suaka.Tapi jangan sampai ada kepentingan-kepentingan lain di laut Rote," ungkap Deni.
Dikatakannya, negara jangan menganggap kasus penyelundupan imigran sebagai hal lumrah. Tetapi, hendaklah berpikir bahwa, kasus ini suatu ancaman untuk Pulau Rote.
"Untuk itu, kita minta pertahanan dan pengawasan di laut Rote harus diperketat karena kita negara perbatasan yang berbatasan langsung secara perairan dengan Australia dan Timor Leste," lugas Deni.
Dia curiga bahwa wilayah perairan Rote Ndao telah lama menjadi jalur rutin bagi para imigran ilegal menuju Australia, khususnya karena rutenya biasanya berawal dari Sulawesi melewati Rote Ndao. Ironinya lagi, tiap tahun ada imigran dari negara-negara serupa yang mendarat di Rote, termasuk orang-orang asal China, Bangladesh, India, Afghanistan, Iraq serta etnis Rohingya dari Myanmar.
"Tidak peduli pentingnya apa, setelah imigran itu ditahan dulu barulah alasan mereka adalah mencari suaka di Australia. Namun, jangan biarkan ada motif besar di perairan kami, terutama Laut Rote memiliki sumber daya yang berlimpah dan sangat menguntungkan," ungkap Deni.
"Nah ini harus menjadi perhatian serius negara, terutama perhatian dari pak Danlanal bersama dengan semua satuan Angkatan Laut yang ada di Rote, kemudian Polairud kita minta diaktifkan kembali di Rote. Kita pikir, kasus ini tidak bisa main-main, ini ancaman yang cukup serius, karena hampir setiap tahun ada," lanjutnya menegaskan.
Bagi dia, sering didorong masuknya imigran gelap ke Pulau Rote berpotensi memicu konflik antarnegara. Untuk itu, sebagai wakil rakyat yang mencintai daerahnya Nusa Fua Funi, Deni meminta TNI-Polri untuk lebih memperkuat pengawasan dan pengamanan laut di Pulau Rote.
"Harapan kami di masa mendatang adalah tidak terjadi lagi kasus penyelundupan manusia di Rote Ndao. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk mencegah hal tersebut dengan cara yang tepat guna mempertahankan kesatuan negeri kita," tegas Deni.
Ia berencana menyampaikan kasus penyelundupan imigran ini ke Pemerintah Daerah Rote Ndao bersama Forkopimda untuk duduk bersama mencari solusi yang cepat dan tepat.
"Kita akan berkomunikasi dengan pak Bupati, karena pak Bupati orangnya respon sekali untuk kita tindak lanjuti persoalan ini. Bahkan kalau bisa, kita usulkan panggil para kepala daerah dan pihak terkait yang daerahnya menjadi rute awal penyelundupan sebelum masuk ke Rote. Kalau kita hanya amankan para imigran itu dan dideportasi kembali ke negaranya, saya rasa tidak ada efek jera. Perlu adanya pertemuan lintas daerah," tukas Deni.
"Salah satu penegasan yang utama adalah kehadiran Armada laut di perairan Rote Ndao. Perlu adanya penempatan armada di Selatan NKRI ini, agar bisa melakukan patroli rutin, sehingga tidak ada lagi kasus penyelundupan manusia di Kabupaten Rote Ndao. Antisipasi dan cegah dini lebih baik, sebelum para imigran didorong masuk ke Rote," tutupnya. (rio)
Ikuti Berita romero.my.idlainnya di GOOGLE NEWS
0 Comments